60] Bab Bab Tentang Orang yang Mengingkari Takdir (Merupakan kufur yang besar) Al-Qadar (takdir) : Merupakan rahasia Allah pada makhluk-makhluknya, dimana kita tidak akan mengetahuinya melainkan setelah terjadi. Takdir ini berkaitan dengan tauhid rububiyah secara khusus walaupun kadang berkaitan pula dengan tauhid asma wa shifat. ATHEISMEOleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA. Sebagaimana telah lalu, bahwasanya diantara pembatal tauhid ar-Rububiyah adalah meyakini tidak ada pencipta (atheism). Penulis menyendirikan dan mengkhususkan pembahasannya karena memang membutuhkan konsentrasi tersendiri untuk menelaahnya, mengingat begitu banyak syubhat seputar hal ini yang semakin tersebar di zaman ledakan informasi saat ini. Ayatayat tersebut menggambarkan keyakinan orang-orang musyrikin Arab dahulu dan orang-orang musyrik selain mereka yang menetapkan tauhid Rububiyah, kemudian dengan mengambil konsekwensi dari pengakuan mereka terhadap tauhid Rububiyah mereka dipojokkan dengan pertanyaan tentang pengingkaran mereka terhadap tauhid Uluhiyah. AlAnkabut: 63) Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap tauhid Rububiyah Allah. Keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga Rasulullah mengumumkan peperangan melawan mereka. Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd Nợ Xấu. Kali ini kita melanjutkan tentang tauhid, syirik, serta tiga pertanyaan kubur dari kitab tsalatsatul ushul. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam Tsalatsah Al-Ushul, وَأَعْظَمُ‭ ‬مَا‭ ‬أَمَرَ‭ ‬اللهُ‭ ‬بِهِ‭ ‬التَّوْحيِدُ،‭ ‬وَهُوَ‭ ‬إِفْرَادُ‭ ‬اللهِ‭ ‬بِالْعِبَادَةِ‭.‬ وَأَعْظَمُ‭ ‬مَا‭ ‬نَهَى‭ ‬عَنْه‭ ‬الشِّركُ،‭ ‬وَهُوَ‭ ‬دَعْوَةُ‭ ‬غَيْرِهِ‭ ‬مَعَهُ،‭ ‬وَالدَّلِيلُ‭ ‬قَوْلُهُ‭ ‬تَعَالَى ‭{‬وَاعْبُدُواْ‭ ‬اللّهَ‭ ‬وَلاَ‭ ‬تُشْرِكُواْ‭ ‬بِهِ‭ ‬شَيْئاً‭} ‬ “Dan perintah Allah yang paling agung adalah tauhid, yaitu memurnikan ibadah untuk Allah semata-mata. Sedangkan larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu menyembah selain Allah di samping menyembah-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.” QS. An-Nisaa’ 36 Tauhid dan syirik itu apa? Tauhid secara bahasa berarti menjadikan sesuatu menjadi satu. Sedangkan secara istilah syari, tauhid berarti mengesakan Allah dalam hal yang menjadikan kekhususan-Nya yaitu dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Syirik secara bahasa berarti an-nashiib yaitu bagian. Sedangkan secara istilah syari, syirik berarti menjadikan selain Allah punya bagian dalam hal-hal yang khusus bagi Allah. Macam-macam syirik Ada berbagai macam bentuk syirik 1. Syirik dalam doa, bentuknya berdoa kepada selain Allah. 2. Syirik dalam niat, bentuknya melakukan ibadah asalnya riya’ atau hanya ingin mencari dunia semata. 3. Syirik ketaatan, yaitu menjadikan selain Allah sebagai pembuat syariat atau pemnbuat hukum. 4. Syirik mahabbah cinta, yaitu mencintai selain Allah sama seperti mencintai Allah. — Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan dalam Tsalatsah Al-Ushul, فَإِذَا‭ ‬قِيلَ‭ ‬لَكَ‭ ‬مَا‭ ‬الأُصُولُ‭ ‬الثَّلاثَةُ‭ ‬التِي‭ ‬يَجِبُ‭ ‬عَلَى‭ ‬الإِنْسَانِ‭ ‬مَعْرِفَتُهَا؟‭ ‬فَقُلْ‭ ‬مَعْرِفَةُ‭ ‬الْعَبْدِ‭ ‬رَبَّهُ،‭ ‬وَدِينَهُ،‭ ‬وَنَبِيَّهُ‭ ‬مُحَمَّدًا‭ ‬صَلَّى‭ ‬اللهُ‭ ‬عَلَيْهِ‭ ‬وَسَلَّمَ “Kemudian, apabila Anda ditanya Apakah tiga landasan utama yang wajib diketahui oleh manusia ? Maka hendaklah Anda jawab Yaitu mengenal Rabb Allah Azza wa Jalla, mengenal agama Islam, dan mengenal Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.” Dari Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menerangkan tentang ayat “Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”, beliau mengatakan, فِى‭ ‬الْقَبْرِ‭ ‬إِذَا‭ ‬قِيلَ‭ ‬لَهُ‭ ‬مَنْ‭ ‬رَبُّكَ‭ ‬وَمَا‭ ‬دِينُكَ‭ ‬وَمَنْ‭ ‬نَبِيُّكَ “Di dalam kubur akan ditanyakan siapa Rabbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.” HR. Tirmidzi, no. 3120. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Bukhari, no. 1369 dan Muslim, no. 2871 Yang bisa menjawabnya adalah yang kuat imannya. Allah Ta’ala berfirman, يُثَبِّتُ‭ ‬اللَّهُ‭ ‬الَّذِينَ‭ ‬آمَنُوا‭ ‬بِالْقَوْلِ‭ ‬الثَّابِتِ‭ ‬فِي‭ ‬الْحَيَاةِ‭ ‬الدُّنْيَا‭ ‬وَفِي‭ ‬الآخِرَةِ‭ ‬وَيُضِلُّ‭ ‬اللَّهُ‭ ‬الظَّالِمِينَ‭ ‬وَيَفْعَلُ‭ ‬اللَّهُ‭ ‬مَا‭ ‬يَشَاءُ “Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” QS. Ibrahim 27 Semoga bermanfaat. Baca Juga Kalimat Tauhid itu Ringan Diucapkan, Namun Berat Di Timbangan Mentauhidkan Allah Hingga Masuk Surga Diselesaikan di RS JIH, 25 November 2019, 28 Rabiul Awwal 1441 H Oleh Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Belajar Tauhid 2 > Tauhid Rububiyyah Syaikh Dr. Soleh bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah Tauhid Rububiyah Dan Pengakuan Orang-Orang Musyrik Terhadapnya Termasuk dalam kesempurnaan Tauhid adalah merangkumi mengakui ke-Esaan Allah dalam rububiyah, ikhlas beribadah hanya kepada-Nya menurut ketetapan kaedahnya, serta menetapkan bagi-Nya nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dengan demikian, perbahasan tauhid secara umumnya dapat dibahagiakan kepada tiga bahagian. Iaitulah; Tauhid rububiyah, Tauhid uluhiyah serta Tauhid asma’ wa shifat. Setiap bahagian dari ketiga-tiga bahagian tauhid tersebut memiliki penjelasan dan perbahasan mengikut skopnya. Tauhid Rububiyah Iaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala perbuatan-Nya, dengan meyakini bahawa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk. Firman-Nya اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ “Allah menciptakan setiap sesuatu, dan Dia lah Yang mentadbirkan serta Memelihara segala sesuatu.” Surah az-Zumar, 39 62 Bahawasanya Dia adalah Pemberi Rezeki bagi setiap manusia, binatang dan makhluk lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا “Dan tidak ada satu pun dari makhluk-makhluk yang bergerak di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” Surah Hud, 11 6 Dan bahawasanya Dia adalah Penguasa alam dan Pentadbir alam semesta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan, Mahakuasa atas segala sesuatu. Pengatur pusingan siang dan malam, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Katakanlah “Wahai Tuhan yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab batas.”.” Surah Ali Imran, 3 26-27 Allah telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya. Sebagaimana Dia menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberi rezeki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ “Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahanmu selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.” Surah Luqman, 31 11 أَمَّنْ هَذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ بَلْ لَجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ “Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?” Surah al-Mulk, 67 21 Allah menyatakan pula tentang ke-Esa-an-Nya dalam rububiyah-Nya atas segala alam semesta. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Segala puji bagi Allah yang memelihara sekalian alam.” Surah al-Fatihah, 1 2 إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan dan bintang-bintang masing-masing tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” Surah al-A’raaf, 7 54 Allah menciptakan semua makhluk-Nya di atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah juga mengakui ke-Esaan rububiyah-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ 86 سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ 87 قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ 88 سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ “Katakanlah “Siapakah yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab “Kepunyaan Allah.” Katakanlah “Maka adakah kamu tidak bertaqwa?” Katakanlah “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari azab-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab “Kepunyaan Allah.” Katakanlah “Kalau begitu, maka dari jalan manakah kamu ditipu?”.” Surah al-Mukminun, 23 86-89 Dengan itu, tauhid rububiyah ini sememangnya diakui oleh sekalian manusia secara fitrah. Tidak ada umat mana pun yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakui-Nya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lainnya. Sebagaimana perkataan para rasul yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ “Berkata rasul-rasul mereka “Adakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi keampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan siksaan-mu sehingga masa yang ditentukan?” Mereka berkata “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk memesongkan menghalang kami dari apa yang selalu disembah nenek-moyang kami, kerana itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.”.” Surah Ibrahim, 14 10 Adapun orang yang paling terkenal dengan pengingkarannya adalah Fir’aun. Walaupun begitu, di hatinya masih tetap mengakui kewujudan Allah. Sebagaimana perkataan Musa alaihis Salam kepadanya قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا “Musa menjawab “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahawa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu melainkan Allah yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira bahawa kamu wahai Fir’aun sebagai seorang yang akan binasa.”.” Surah al-Isra’, 17 102 Allah Ta’ala turut mengkhabarkan tentang Fir’aun dan kaumnya وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ “Dan mereka mengingkarinya kerana kezaliman dan kesombongan mereka, sedangkan hati mereka mengakui kebenaran hakikat tersebut.” Surah an-Naml, 27 14 Begitu pula orang-orang yang mengingkarinya di zaman ini, seperti komunis dan atheis. Mereka hanya menampakkan pengingkaran dan penolakkan kerana kesombongannya. Akan tetapi pada hakikatnya, secara diam-diam, batin mereka meyakini bahawa tidak ada satu makhluk pun yang ada tanpa Pencipta, dan tidak ada satu benda pun kecuali ada yang membuatnya, dan tidak ada pengaruh apa pun kecuali pasti ada yang mempengaruhinya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ. أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ “Adakah mereka diciptakan tanpa sesuatu apa pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Atau mereka yang mencipta langit dan bumi itu? Sebaliknya mereka tidaklah yakin. ” Surah ath-Thur, 52 35-36 Perhatikanlah alam semesta ini, sama ada yang di atas mahupun yang di bawah dengan segala bahagian-bahagiannya, kita pasti mampu mendapati semua itu menunjukkan kepada wujudnya Pembuat, Pencipta dan Pemiliknya. Maka, mengingkari dalam akal dan hati terhadap pencipta semua itu, sama keadaannya dengan mengingkari ilmu itu sendiri dan mencampakkannya, yang mana kedua-dua situasi tersebut tiada bezanya. Adapun pengingkaran tentang adanya Tuhan oleh orang-orang komunis ketika ini hanyalah kerana kesombongan dan penolakan mereka terhadap hasil kajian dan penemuan akal yang sihat. Sesiapa yang memiliki sifat seperti ini maka dia telah membuang akalnya dan mengajak orang lain untuk mentertawakan dirinya. Pengertian Rabb Dalam al-Qur’an Dan as-Sunnah, Serta Pandangan Umat-umat Yang Sesat Rabb adalah bentuk mashdar, berasal dari “رب يرب” yang bererti mengembangkan sesuatu dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain, sehingga kepada keadaan yang sempurna. Dan boleh juga diungkapkan dengan ربه ورباه ورببه. Dengan itu, Rabb adalah kata mashdar yang dipinjam untuk fa’il pelaku. Kata-kata ar-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk. Adapun jika diidhafah-kan ditambahkan kepada yang lain, maka ianya boleh dimaksudkan kepada Allah dan boleh juga yang lain. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Segala puji bagi Allah yang memelihara sekalian alam.” Surah al-Fatihah, 1 2 Juga firman-Nya قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ “Musa berkata pula “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-moyang kamu yang dahulu.”.” Surah as-Syu’ara, 26 26 Kata rabb juga turut digunakan seperti “رب الدار” iaitu tuan rumah atau pemilik rumah, “رب الفرس” iaitu pemilik kuda, dan di antaranya lagi adalah perkataan Nabi Yusuf alahis Salam yang dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ “Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu rabbika.” Maka Syaitan menjadikan dia lupa menerangkan keadaan Yusuf kepada tuannya rabbihi. Kerana itu tetaplah dia Yusuf dalam penjara beberapa tahun lamanya.” Surah Yusuf, 12 42 Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ “…kembalilah kepada tuanmu rabbika…” Surah Yusuf, 12 50 أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْرًا “Adapun salah seorang dari kamu, maka ia akan memberi minum arak kepada tuannya rabbahu…” Surah Yusuf, 12 41 Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah tentang unta yang hilang حَتَّى يَجِدَهَا رَبُّهَا “…Sehingga pemiliknya menemuinya…” Shahih al-Bukhari, 2428 Maka jelaslah bahawa kata Rabb diperuntukkan untuk Allah jika ma’rifat dan mudhaf, sehingga kita mengatakan misalnya الرب Tuhan – Allah, رب العالمين Penguasa semesta alam atau رب الناس Tuhan manusia. Dan tidak diperuntukkan kepada selain Allah kecuali jika di-idhafah-kan, misalnya رب الدار tuan rumah, atau “رب الاءبل” pemilik unta dan lainnya. Makna “رب العالمين” adalah Allah Pencipta alam semesta, Pemilik, Pengurus dan Pembimbing mereka dengan segala nikmat-Nya, serta dengan mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya dan Pemberi balasan atas segala perbuatan makhluk-Nya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah Wafat 751H berkata bahawa kandungan dan kesan rububiyah adalah adanya perintah dan larangan kepada hamba, membalas yang berbuat baik dengan kebaikan, serta menghukum yang jahat atas kejahatannya. Madarijus Salikin, 1/68 Pengertian Rabb Menurut Pandangan Umat-Umat Yang Sesat Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan fitrah mengakui tauhid serta mengetahui Rabb Sang Pencipta. Firman Allah فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Surah ar-Ruum, 30 30 وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ “Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka lalu berfirman “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab “Betul Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi.” Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang alpa terhadap ini ke-Esaan Tuhan”. Surah al-A’raaf, 7 172 Jadi, mengakui rububiyah Allah dan menerimanya adalah sesuatu yang fitri. Sedangkan syirik adalah unsur yang datang kemudian. Baginda Rasul bersabda كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tua-nyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Shahih al-Bukhari, no. 1385 Seandainya seorang manusia diasingkan dan dibiarkan fitrahnya, pasti ia akan meng-arah kepada tauhid yang dibawa oleh para rasul, yang disebutkan oleh kitab-kitab suci dan ditujukan oleh alam. Akan tetapi kesan pengaruh bimbingan yang menyimpang dan persekitaran yang berunsurkan tidak mempedulikan wujudnya Tuhan itulah faktor penyebab yang mengubah pandangan si bayi. Dari sanalah seorang anak manusia mengikuti bapa-nya dalam kesesatan dan penyimpangan. Allah berfirman dalam hadis Qudsi وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ “Aku ciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif putih bersih semuanya, sesungguhnya Syaitan-lah yang memalingkan mereka, maka mereka pun menyimpang dari agama mereka.” Shahih Muslim, no. 2865 Maksudnya, memalingkan mereka kepada berhala-berhala dan menjadikan mereka itu sebagai tuhan selain Allah. Maka mereka jatuh dalam kesesatan, keterasingan, perpecahan, dan perbezaan; kerana setiap kelompok memiliki tuhan-nya masing-masing. Ini adalah kerana ketika mereka berpaling dari Tuhan yang sebenar, maka mereka akan jatuh ke dalam fikrah mempercayai tuhan-tuhan palsu. Sebagaimana firman Allah فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ “Maka demikian, Allah itulah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimana kamu boleh dipalingkan dari kebenaran?” Surah Yunus, 10 32 Kesesatan itu tidak memiliki batas dan tepi. Dan itu pasti terjadi pada diri orang-orang yang berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman-Nya يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ 39 مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Wahai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama yang kamu dan nenek moyang kamu ada-adakannya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama tersebut. Sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah, Yang telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Surah Yusuf, 12 39-40 Dan syirik dalam tauhid rububiyah adalah dengan menetapkan adanya dua pencipta yang serupa dalam sifat dan perbuatannya; Ini adalah sesuatu yang mustahil. Akan tetapi sebahagian kaum musyrikin meyakini bahawa tuhan-tuhan mereka memiliki sebahagian kekuasaan dalam alam semesta ini. Syaitan telah mempermainkan mereka dalam menyembah tuhan-tuhan tersebut, dan syaitan mempermainkan setiap kelompok manusia berdasarkan kemampuan akal mereka. Ada sekelompok orang yang diajak untuk menyembah orang-orang yang sudah mati dengan cara membuat patung-patung mereka sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh alaihis Salam. Ada pula sekelompok lain yang menghasilkan berhala-berhala dalam bentuk planet-planet. Mereka menganggap planet-planet tersebut memiliki kuasa terhadap alam semesta dan isinya. Maka mereka membinakan rumah-rumah untuknya serta memasang anak kuncinya. Mereka pun berselisih pendapat berkenaan penyembahannya; ada yang menyembah matahari, ada yang menyembah bulan dan ada pula yang menyembah planet-planet lain, sehingga di kalangan mereka membina piramid-piramid, dan setiap planet ada piramidnya sendiri. Ada pula golongan yang menyembah api, iaitu kaum Majusi. Juga ada kaum yang menyembah sapi lembu, seperti yang ada di India; kelompok yang menyembah malaikat, kelompok yang menyembah pohon-pohon dan batu besar. Juga ada yang menyembah makam atau kuburan yang dianggap keramat. Semua ini adalah disebabkan kerana mereka menyangkakan dan menggambarkan benda-benda tersebut mempunyai sebahagian dari sifat rububiyah atau ketuhanan. Ada pula yang menganggap berhala-berhala itu mewakili hal-hal yang ghaib. Imam Ibnul Qayyim berpendapat “Pembuat berhala pada mulanya adalah golongan yang suka berimaginasi dan gemar membayangkan persoalan tuhan yang ghaib, lalu mereka membina patung-patung tertentu berdasarkan bentuk dan rupa yang terlintas di fikiran mereka agar dapat menjadi wakilnya serta mengganti kedudukannya. Jika tidak begitu, maka sesungguhnya setiap orang yang berakal tidak mungkin akan memahat patung dengan tangannya sendiri kemudian meyakini dan menyatakan bahawa patung yang dipahat itu adalah tuhan sembahannya.” Ighatsatul Lahfan, 2/220 Begitu pula yang berlaku kepada golongan sesat yang menyembah kuburan, sama ada di era dahulu kala mahupun di zaman ini, mereka menyangka bahawa orang-orang mati itu dapat membantu mereka, dengan beranggapan bahawa mereka mampu menjadi per-antara penghubung di antara mereka dengan Allah dalam membantu memenuhi mencapai hajat-hajat mereka. Mereka mengatakan مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Surah az-Zumar, 39 3 وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ “Dan mereka menyembah selain dari Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula manfaat, dan mereka berkata “Mereka itu adalah pemberi syafa’at pertolongan kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah “Adakah kamu mengkhabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak pula di bumi?” Maha Suci Allah yang Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan itu.” Surah Yunus, 10 18 Begitulah hakikatnya sebagaimana yang dilakukan oleh sebahagian kaum musyrikin arab dan Nasrani di mana mereka menganggap tuhan-tuhan mereka adalah anak-anak Allah. Kaum musyrikin arab menganggap malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Orang Nasrani menyembah Isa alaihis salam atas dasar anggapan ia adalah anak lelaki Allah. Sanggahan Terhadap Pandangan Yang Batil Terhadap Rububiyah Allah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyanggah pandangan-pandangan tersebut a – Sanggahan Terhadap Penyembah Berhala أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى 19 وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى “Maka adakah patut kamu wahai orang-orang musyrik menganggap al-Lata dan al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian sebagai anak perempuan Allah?” Surah an-Najm, 53 19-20 Tafsir ayat tersebut menurut imam al-Qurthubi, “Sudahkah engkau perhatikan baik-baik tuhan-tuhan ini. Apakah mereka boleh mendatangkan manfaat atau mudharat, sehingga mereka itu dijadikan sebagai sekutu-sekutu Allah?” Allah Ta’ala berfirman وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ 69 إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ 70 قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ 71 قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ 72 أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ 73 قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ “Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapa-nya dan kaumnya “Apakah yang kamu sembah?” Mereka menjawab “Kami menyembah berhala-berhala dan kami sentiasa tekun menyembahnya.” Berkata Ibrahim “Adakah berhala-berhala itu mendengar doa-mu sewaktu kamu berdoa kepadanya? Atau dapatkah mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?” Mereka menjawab “Bukan kerana itu, tetapi sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.”.” Surah asy-Syu’araa’, 26 69-74 Mereka mengakui bahawa berhala-berhala itu tidak mampu untuk mendengar permohonan, tidak boleh mendatangkan manfaat mahupun mudharat. Akan tetapi mereka menyembahnya kerana ikut-ikutan taklid buta kepada nenek moyang mereka. Sedangkan taklid adalah hujjah yang batil dan bukanlah suatu pendirian yang betul. b – Sanggahan Terhadap Penyembah Matahari, Bulan, Dan Bintang Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan dan bintang-bintang, masing-masing tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” Surah al-A’raaf, 7 54 وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari dan bulan, tetapi sujudlah kepada Allah yang telah menciptakannya, sesungguhnya hanya kepadanyalah kamu mengabdikan diri.” Surah Fushilat, 41 37 c – Sanggahan Terhadap Penyembah Malaikat Dan Nabi Isa Yang Dianggap Sebagai Anak Allah Allah Ta’ala berfirman مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ “Allah sekali-kali tidak memiliki anak, dan sekali-kali tiada tuhan yang lain bersama-Nya. Kalau ada tuhan bersama-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebahagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebahagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” Surah al-Mu’minuun, 23 91 بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ “Dia-lah Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia memiliki anak sedangkan Dia tidak memiliki isteri. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu.” Surah al-An’am, 6 101 قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ 1 اللَّهُ الصَّمَدُ 2 لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ 3 وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ “Katakanlah Wahai Muhammad “Tuhanku ialah Allah yang Maha Esa, Allah yang menjadi tempat bergantung bagi sekalian makhluk, Dia tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada siapapun yang serupa dengan-Nya.”.” Surah al-Ikhlas, 112 1-4 Fitrah Alam Semesta Yang Tunduk dan Patuh Kepada Allah Sesungguhnya alam semesta ini keseluruhannya tunduk kepada Allah dan patuh kepada kauniyah-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, sama ada dengan suka ataupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” Surah Ali Imran, 3 83 وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ “Mereka orang-orang kafir berkata “Allah memiliki anak.” Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.” Surah al-Baqarah, 2 116 وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ “Dan kepada Allah bersujud segala apa yang di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan juga para malaikat, sedang mereka malaikat tidak menyombongkan diri.” Surah an-Nahl, 16 49 أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ “Adakah kamu tiada mengetahui, bahawa kepada Allah-lah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung-ganang, tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang yang melata dan sebahagian besar dari manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan sesiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan apa yang Dia kehendaki.” Surah al-Hajj, 22 18 وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ “Hanya kepada Allah-lah sujud patuh segala apa yang di langit dan di bumi, sama ada dengan kemahuan sendiri ataupun terpaksa dan sujud pula bayang-bayang mereka di waktu pagi dan petang hari.” Surah ar-Ra’d, 13 15 Dengan ini telah jelaslah kepada kita bahawa seluruh alam semesta ini tunduk kepada Allah, patuh kepada kekuasaan-Nya, berjalan menurut kehendak dan perintah-Nya. Tiada satu pun makhluk yang mengingkari-Nya. Semua menjalankan tugas dan peranannya masing-masing serta menurut disiplin atau sistem yang sangat sempurna. Penciptanya Allah sama sekali tidak memiliki sifat kurang, lemah, dan cacat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tiada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” Surah al-Isra, 17 44 Juga telah jelas kepada kita bahawa, seluruh makhluk, sama ada yang berbicara mahupun yang tidak, yang hidup mahupun yang mati, semuanya tunduk kepada perintah kauniyah Allah. Kesemuanya menyucikan Allah dari segala kekurangan dan kelemahan, sama ada secara perbuatan mahupun ucapan. Golongan yang berakal pasti mampu memikirkan dan memerhatikan persoalan ini, dan mereka menjadi bertambah yakin bahawa semua itu diciptakan dengan haq dan untuk yang haq. Bahawasanya ia diatur dan tidak ada pengaturan yang keluar dari aturan Penciptanya. Kesemuanya meyakini kewujudan, kekuasaan dan pengaruh Sang Pencipta dengan naluri dan fitrahnya. Imam Ibnu Taimiyah berkata, “Mereka tunduk dengan menyerah, pasrah dan terpaksa dari pelbagai segi, di antaranya 1 – Meyakini bahawa mereka sangat memerlukan-Nya. 2 – Mereka Tunduk kepada qadha’, qadar, dan kehendak Allah yang ditulis atas mereka. 3 – Mereka memohon dan melahirkan rasa berharap kepada-Nya ketika dalam keadaan darurat atau tersepit. Seorang mukmin tunduk kepada perintah Allah dengan redha dan ikhlas. Begitulah juga ketika mendapat ujian, mereka sabar menerima-nya. Atas sebab itulah mereka tunduk dan patuh dengan penuh redha dan ikhlas.” Majmu’ al-Fatawa, 1/45 Sedangkan orang kafir, maka ia tunduk kepada perintah Allah yang bersifat kauni sunnatullah. Adapun maksud dari sujudnya alam dan benda-benda seperti tumbuhan, angin, udara, dan gunung-ganang adalah ketundukan mereka kepada Allah. Dan setiap sesuatu itu bersujud menurut kesuaiannya, iaitu suatu sujud yang bersesuaian dengan keadaannya serta mengandungi makna tunduk kepada al-Rabb. Dan bertasbihnya masing-masing benda adalah hakikat, bukan majaz perumpamaan, dan ianya bersesuaian dengan keadaannya masing-masing. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ “Maka adakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, sedangkan sepatutnya hanya kepada-Nya-lah tempat menyerah diri segala apa yang di langit dan di bumi, sama ada dengan suka mahupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” Surah Ali Imran, 3 83 Dengan mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan ketundukan setiap perkara itu secara sukarela dan terpaksa, kerana seluruh makhluk wajib beribadah kepada-Nya dengan penghambaan yang umum, tidak kira adakah ia mengakui-Nya atau mengingkari-Nya. Mereka semua tunduk dan diatur. Mereka patuh dan pasrah kepada-Nya secara rela mahupun terpaksa.” Majmu’ al-Fatawa, 9/200 Tiada satu pun dari makhluk ini yang keluar dari kehendak, takdir, dan qadha’-Nya. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan izin Allah. Dia adalah Pencipta dan Penguasa alam. Semua adalah milik-Nya. Dia bebas melakukan apa sahaja terhadap ciptaan-Nya bersesuaian dengan kehendak-Nya. Semua dikendalikan-Nya. Dialah Yang Maha Suci, Maha Esa, Maha Perkasa, Maha Pencipta, Pembuat dan Pembentuk. MANHAJ AL-QUR’AN DALAM MENETAPKAN WUJUD DAN KE-ESAAN AL-KHALIQ Manhaj al-Qur’an dalam menetapkan wujud al-Khaliq serta ke-Esaan-Nya adalah satu-satunya manhaj yang sejalan dengan fitrah yang lurus dan akal yang sihat. Iaitu dengan mengemukakan bukti-bukti yang benar, yang menjadikan akal mahu menerima dan musuh pun menyerah. Di antara dalil-dalil tersebut adalah 1 – Telah menjadi kepastian, setiap yang baru tentu ada yang mengadakan. Ini adalah sesuatu yang dimaklumi setiap insan melalui fitrah, malahan sehingga kanak-kanak pun mampu merasai dan memiliki fitrah tersebut. Jika seseorang anak dipukul oleh seseorang ketika sedang lalai dan tidak melihatnya, ia pasti akan berkata atau mencari, “Siapakah yang telah memukulku?” Kalau dikatakan kepadanya, “Tidak ada sesiapa yang memukulmu”, maka akalnya pasti tidak akan dapat dan mahu menerima-nya, iaitu hatinya berasa tidak puas hati. Bagaimana mungkin ada pukulan tanpa ada yang melakukannya. Jika dikatakan kepadanya, “si Fulan yang memukulmu”, maka kemungkinan dia akan menangis atau mungkin akan membalas pukulan yang dilakukan ke atasnya tadi. Kerana itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ “Mengapa mereka tidak beriman? Adakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun yang menciptakan ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?” Surah at-Thur, 52 35 Ini adalah penyangkalan dan bantahan, yang disebutkan oleh Allah dengan shighat istifham inkari bentuk pertanyaan yang menyangkal, bagi tujuan menjelaskan bahawa hal tersebut adalah merupakan kebenaran yang nyata, yang tidak mungkin lagi diingkari. Mereka berfikir tanpa pencipta yang menciptakan mereka, ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri? Tentu tidak. Kedua hal itu sama-sama batil. Maka tidak ada kemungkinan lain kecuali mereka mempunyai pencipta yang menciptakan mereka iaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak ada lagi pencipta yag selain-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ “Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahanmu selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada dalam kesesatan yang nyata.” Surah Luqman, 31 11 قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ “Katakanlah “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah.” Perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka bekerjasama dengan Allah dalam penciptaan langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum al-Qur’an ini atau peninggalan dari pengetahuan orang-orang dahulu, jika kamu adalah orang-orang yang benar.” Surah al-ahqaaf, 46 4 قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ “Katakanlah “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya “Allah.” Katakanlah “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan bagi diri mereka sendiri?” Katakanlah “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap-gelita dan terang benderang; adakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.” Surah ar-Ra’d, 13 16 يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ “Wahai manusia, telah dijadikan suatu perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala apa yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah pulalah yang disembah.” Surah al-Hajj, 22 73 وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ “Dan berhala-berhala yang mereka seru ibadahi selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu sendiri dibuat orang.” Surah an-Nahl, 16 20 أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ “Maka apakah Allah yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan apa-apa? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” Surah an-Nahl, 16 17 Dengan jelas dan ayat-ayat cabaran pun turut diajukan melalui dalil yang berulang-ulang, namun tidak seorang pun yang mampu mengaku bahawa dia telah menciptakan sesuatu. Pengakuan atau dakwaan sahaja pun tidak ada, apalagi menetapkan dengan bukti. Dengan itu, ternyata bahawa amat benarlah hanya Allah Pencipta sekalian alam, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. 2 – Teraturnya semua urusan alam, juga kerapiannya adalah bukti paling kuat yang menunjukkan bahawa pengatur alam ini hanyalah Tuhan yang satu, yang tidak bersekutu atau pun berseteru. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ “Allah sekali-kali tidak memiliki anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan yang lain beserta-Nya, jika ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebahagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebahagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” Surah al-Mukminuun, 23 91 Tuhan yang hak, yang sebenar-benarnya wajib menjadi pencipta sejati. Jika ada tuhan yang lain di dalam kerajaannya, sudah pasti tuhan itu juga berupaya menciptakan sesuatu. Ketika itu, pasti ia tidak akan rela adanya tuhan lain bersamanya. Bahkan, seandainya ia mampu mengalahkan temannya dan menguasai sendiri kerajaan serta ketuhanan, tentu telah ia lakukan. Apabila ia tidak mampu mengalahkannya, pasti ia akan hanya mengurus kerajaan miliknya. Sebagaimana raja-raja di dunia mengurus kerajaannya sendiri-sendiri. Maka terjadilah perpecahan, sehingga perlunya terjadi salah satu daripada tiga perkara berikut A, Salah satunya mampu mengalahkan yang lain dan menguasai alam sendirian. B, Masing-masing berdiri sendiri dalam kerajaan dan penciptaan, sehingga terjadi pembahagian kekuasaan. C, Kedua-duanya berada dalam kekuasaan seorang raja yang bebas dan berhak berbuat apa saja terhadap keduanya. Dengan demikian maka dialah yang menjadi tuhan yang hak, sedangkan yang lain adalah hambanya. Dan secara realitinya, dalam alam ini tidak terjadi pembahagian kekuasaan dan ketidak selarasan. Hal ini menunjukkan pengaturnya adalah Satu dan tidak seorang pun menentang-Nya. Dan bahawa Rajanya adalah Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. 3 – Tunduknya makhluk-makhluk untuk melaksanakan tugasnya sendiri-sendiri serta mematuhi peranan dan fungsi yang diberikan-Nya. Tidak ada satu pun makhluk yang membangkang dari melaksanakan tugas dan fungsinya di alam semesta ini. Inilah yang dijadikan hujjah oleh Nabi Musa alaihis salam. ketika ditanya Fir’aun قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَى 49 قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى “Berkata Fir’aun “Maka siapakah Tuhan kamumu berdua, wahai Musa?” Musa berkata “Tuhan kami adalah Tuhan yang telah memberikan kepada setiap sesuatu bentuk kejadiannya yang sesuai dengan bentuk kejadiannya, kemudian Dialah yang memberinya petunjuk.”.” Surah Thoha, 20 49-50 Jawaban Musa sungguh tepat dan kukuh “Tuhan Kami ialah Tuhan yang telah memberikan kepada setiap sesuatu bentuk kejadiannya yang sesuai dengannya, kemudian Dia memberi petunjuk.” Maksudnya, Tuhan kami yang telah menciptakan semua makhluk dan memberi masing-masing makhluk suatu ciptaan yang tepat untuknya; mulai dari ukuran, besar atau kecilnya atau sederhana serta seluruh sifatnya yang ada padanya. Kemudian menunjukkan kepada setiap makhluk tersebut akan tugas dan fungsinya. Petunjuk ini adalah hidayah yang sempurna, yang dapat disaksikan oleh setiap makhluk. Jika kita perhatikan setiap makhluk, pasti kita akan dapati mereka melaksanakan apa yang menjadi tugasnya. Dengan hakikat dan ciri-ciri tersebut, maka pelbagai manfaat dapat dihasilkan dan berupaya mencegah perkara-perkara yang berbahaya. Sehingga haiwan ternak pun diberikan oleh-Nya sebahagian dari akal yang menjadikannya berupaya melakukan perkara yang bermanfaat baginya dan mengusir bahaya yang mengancamnya, dan juga mampu melakukan tugas-tugas tertentu dalam kehidupan. Ini adalah sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulakan penciptaan manusia dari tanah.” Surah as-Sajdah, 32 7 Jadi, dengan itu ia menunjukkan bahawa yang telah menciptakan semua makhluk dan memberinya sifat penciptaan yang baik, yang mana manusia tidak mampu mengadakannya, juga menunjukkan kepada kemaslahatannya masing-masing adalah Tuhan yang sebenarnya. Mengingkari-Nya adalah mengingkari kewujudan yang paling agung. Dan hal itu merupakan kedangkalan atau kebohongan yang sangat jelas. Allah memberi semua makhluk dengan segala keperluannya di dunia, kemudian menunjukkan tatacara perjalanan hidupnya. Dan tidak syak lagi jika Dia telah memberi dari setiap jenis makhluknya dengan bentuk dan rupa yang sesuai dengannya. Dia telah memberi setiap lelaki dan perempuan dengan bentuk yang sesuai dengan jenisnya, sama ada dalam pernikahan, perasaan, mahupun unsur sosial. Juga telah memberi setiap anggota tubuh bentuk yang sesuai untuk suatu manfaat yang telah ditentukan-Nya. Semua ini adalah bukti-bukti yang jelas bahawasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Tuhan bagi segala sesuatu, dan Dia berhak disembah, dan bukannya yang lain. “Pada setiap benda terdapat bukti bagi-Nya, yang menunjukkan Bahawa Dia adalah Esa.” Kemudian, tidak diragukan lagi, maksud penetapan rububiyyah Allah atas makhluk-Nya dan ke-Esaannya dalam rububiyah adalah untuk menunjukkan wajibnya menyembah Allah semata-mata, tanpa sekutu bagi-Nya, iaitu Tauhid Uluhiyyah. Seandainya seseorang mengakui Tauhid rububiyah tetapi tidak mengimani tauhid uluhiyah, atau tidak mahu melaksanakannya, maka ia tidak menjadi muslim dan bukan ahli tauhid, bahkan ia adalah kafir jahid yang menentang. Dan persoalan inilah yang akan dibahaskan dalam topik yang berikutnya, InsyaALLAH. TAUHID RUBUBIYAH MENGHARUSKAN ADANYA TAUHID ULUHIYAH Dari sini menunjukkan bahawa sesiapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani bahawa tidak ada pencipta, pemberi rezeki dan pengatur alam kecuali Allah, maka dia juga mesti mengakui bahawa tidak ada yang berhak menerima ibadah pengabdian dengan tatacaranya dan kaedahnya melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sahaja. Dan itu adalah merupakan asas kepada konsep tauhid uluhiyah. Tauhid uluhiyah, iaitu tauhid ibadah, kerana ilah maknanya adalah ma’bud yang disembah. Maka tidak ada yang diseru dalam doa kecuali Allah, tidak ada tempat meminta pertolongan kecuali kepada Dia, tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tidak boleh menyembelih korban atau bernadzar kecuali untuk-Nya atau kerana-Nya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah kecuali untuk-Nya dan kerana-Nya semata-mata. Dengan itu, tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah. Atas sebab itu juga kita dapat melihat Allah banyak melakukan bantahan terhadap orang yang mengingkari tauhid uluhiyah dengan tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 21 الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; oleh itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” Surah al-Baqarah, 2 21-22 Allah memerintahkan mereka supaya melaksanakan tauhid uluhiyah, iaitu menyembah-Nya dan beribadah kepada-Nya. Dia menunjukkan dalil kepada mereka dengan tauhid rububiyah, iaitu penciptaan-Nya terhadap manusia dari yang pertama hingga yang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, penurunan hujan, penumbuhan tumbuh-tumbuhan, pengeluaran buah-buahan yang menjadi rezeki bagi para hamba. Maka sangat tidak wajar bagi mereka jika menyekutukan Allah dengan yang lain-Nya; dari benda-benda atau pun orang-orang yang mereka sendiri mengetahui bahawa ia tidak berupaya melakukan sebarang sesuatu pun dari hal-hal tersebut di atas dan lainnya. Maka jalan fitrah untuk menetapakan uluhiyah adalah berdasarkan tauhid rububiyah. Kerana manusia pertama kalinya sangat bergantung kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan kemudharatannya. Setelah itu berpindah kepada cara-cara bertaqarrub kepada-Nya, cara-cara yang boleh kita mendapatkan redha-Nya dan menguatkan hubungan antara dirinya dengan Tuhannya. Maka tauhid rububiyah adalah laluan masuk kepada tauhid uluhiyah. Kerana itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berhujah atas orang-orang yang musyrik dengan cara ini. Dia juga memerintahkan Rasul-Nya untuk berhujah atas mereka seperti itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ 84 سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ 85 قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ 86 سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ 87 قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ 88 سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ “Katakanlah “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab “Kepunyaan Allah.” Katakanlah “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah “Siapakah yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab “Kepunyaan Allah.” Katakanlah “Maka adakah kamu tidak bertaqwa?” Katakanlah “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari azab-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab “Kepunyaan Allah.” Katakanlah “Kalau begitu, maka dari jalan manakah kamu ditipu?”.” Surah al-Mukminuun, 23 84-89 ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ “Yang memiliki sifat-sifat yang demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” Surah al-An’am, 6 102 Dia berdalil dengan tauhid rububiyah-Nya atas hak-Nya untuk disembah. Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi tujuan dalam penciptaan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdikan diri kepada-Ku.” Surah adz-Dzariyat, 51 56 Erti “يعبدون” adalah mentauhidkan-Ku dalam ibadah. Seseorang hamba tidaklah menjadi muwahhid ahli tauhid hanya dengan mengakui tauhid rububiyah semata-mata, tetapi ia harus mengakui tauhid uluhiyah serta mengamalkannya. Jika tidak demikian, maka orang musyrik pun sebenarnya turut mengakui tauhid rububiyah, tetapi keadaan tersebut tidaklah menjadikan mereka termasuk ke dalam Islam, malahan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerangi mereka. Padahal mereka mengakui bahawa Allah-lah Tuhan Pencipta, Pemberi Rezeki, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka “Siapakah yang menciptakan mereka, nescaya mereka menjawab “Allah.” Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan dari menyembah Allah?” Surah az-Zukhruf, 43 87 قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ “Katakanlah “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang berkuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab “Allah.” Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?” Surah Yunus, 10 31 Situasi dan penghujjahan seperti itu amat banyak dikemukakan di dalam al-Qur’an. Maka barangsiapa menganggap bahawa tauhid itu hanya meyakini wujud Allah, atau meyakini bahawa Allah adalah al-Khaliq yang mengatur alam, maka sesungguhnya orang tersebut belumlah mengetahui hakikat tauhid yang dibawa oleh para Rasul. Kerana sesungguhnya ia hanya mengakui sesuatu yang diharuskan, dan meninggalkan sesuatu yang mengharuskan; atau berhenti hanya setakat pada dalil tetapi ia meninggalkan isi dan tujuan dalil tersebut. Di antara kekhususan ilahiyah adalah kesempurnaan-Nya yang mutlak dalam segala segi, tidak ada cela atau kekurangan sedikit pun. Ia mengharuskan semua ibadah perlu dikhususkan kepada-Nya; pengagungan, penghormatan, kecintaan, rasa takut, doa, pengharapan, taubat, tawakkal, minta pertolongan, penghambaan dengan rasa cinta yang paling dalam, semua itu adalah wajib secara akal, syara’ dan fitrah agar ditujukan khusus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Juga secara akal, syara’ dan fitrah, tidak mungkin hal itu boleh ditujukan kepada selain-Nya. Teruskan dengan perbahasan berikutnya >> Tauhid Uluhiyyah. Lafal Allah Foto dok rububiyah yang berarti mengesakan Allah dalam penciptaan, kekuasaan, kepemilikian dan kewenangan Allah sebagai satu-satunya zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Selain tauhid rububiyah, terdapat juga tauhid uluhiyah yang juga memiliki hubungan erat dengan tauhid rububiyah. Tak hanya itu, pengetahuan tentang makna tauhid itu sendiri juga perlu dipahami dengan baik agar dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Rububiyah dan MaknanyaTauhid rububiyah yang merupakan salah satu bentuk tauhid atau mengesakan Allah ini memiliki arti beriman hanya kepada Allah, satu-satunya Zat yang memiliki kekuasaan mutlak, memiliki hak mutlak untuk mengatur, menciptakan, merencanakan, hingga menjaga jalannya alam semesta. Tauhid rububiyah ini sering kita jumpai dalilnya dalam Alquran yang menerangkan tentang kekuasaan Allah. Salah satu ayat Alquran yang menerangkan tentang kekuasaan Allah adalah surat Az Zumar ayat 62 yang memiliki arti “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu” ini tentu menunjukan secara mutlak bahwa Allah merupakan satu-satunya Zat yang memiliki kekuasaan atas alam semesta mulai dari hidup hingga matinya Allah Foto dok PixelsTak hanya surat Az Zumar, dalam surat lain juga dijelaskan bahwa Allah adalah Zat yang memiliki hak dan kekuasaan untuk menciptakan makhluk dan juga memerintahkan makhluk-Nya. Seperti yang tertuang dalam surat Al Araf ayat 54 berikut iniأَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَArtinya “Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah” Al- A’raf 54.Tauhid yang berarti mengesakan Allah dan termasuk ke dalam kaidah islam yang menyatakan keesaan Allah, ini menunjukan bahwa agama Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Esa atau satu dan tidak memiliki sekutu atau bahkan zat lain yang dapat menyerupai Allah. Tauhid ini dapat diamalkan manusia dengan wujud tidak melakukan syirik kepada Allah dengan mempercayai tukang sihir atau hal-hal yang berbau syirik rububiyah ini ternyata memiliki hubungan yang erat satu sama lainnya dengan tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah. Ini berarti seseorang beribadah hanya niat dan hanya kepada Allah tanpa ada sekutu rububiyah dan tauhid uluhiyah dikatakan memiliki hubungan yang erat karena jika seseorang beribadah hanya kepada Allah tanpa menyekutukan Allah dengan niat hanya karena Allah, pasti dia meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Zat yang memiliki kekuasaan mutlak atas semua hal yang ada di alam semesta. DA Tauhid Rububiyah Foto dok PinterestTauhid rububiyah yang dapat kita pahami dalam agama islam yaitu untuk mengesakan Allah ini tentu dapat meningkatkan keimanan kita sebagai umat-Nya yang baik. Tauhid rububiyah ini dapat kita pahami bagaimana konsepnya dan contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan mengetahuinya dalam artikel dengan penjelasan sederhana mengenai tauhid rububiyah berikut Islam Tauhid Rububiyah dan penjelasan Sederhana tentang PenerapannyaTauhid rububiyah merupakan mengesakan Allah dengan meyakini seluruh kejadian-kejadian yang hanya Allah bisa lakukan sebagai satu-satunya Dzat yang berhak disembah. Dalam tauhid rububiyah seseorang menyatakan dengan tegas bahwa Allah adalah Tuhan, Raja, Pemilik, Pencipta atas seluruh makhluk yang ada. Dengan begitu pula seseorang meyakini bahwa hanya Allah Dzat yang mengatur dan yang bisa merubah rububiyah dapat diyakini melalui kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Contohnya seperti menciptakan makhluk, menghidupkan makhluk, mematikan makhluk, memberi serta membagi rizki kepada seluruh makhluk, mengubah takdir, atau mendatangkan manfaat dan pertolongan kepada makhluk bahkan menolak dan mendatangkan segala mudharat atau Allah dengan Membaca Alquran Foto dok tauhid rububiyah ini juga seseorang mengimani bahwa hanya Allah lah Dzat yang dapat mengawasi, mengatur, menguasai, menghukumi sesuatu dan masih banyak lagi hal yang menunjukkan keesaan Allah. Seorang hamba juga wajib meyakini bahwa tak ada lagi sesuatu yang berhak disembah dan dapat menandingi kuasa Allah dalam bentuk rububiyah dijelaskan dengan sangat lengkap dalam surat Al-Ikhlas ayat 1-4 yang berisi tentang bagaimana Allah berkuasa dan pengesaan Allah. Allah sangat jelas menyatakannya dalam surat Al Ikhlas,قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ qul huwallāhu aḥad اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ Allāhuṣ-ṣamad لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ lam yalid wa lam yụlad وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ wa lam yakul lahụ kufuwan aḥadArtinya “Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” QS. Al Ikhlash 1-4Dari surat tersebut dapat kita sama-sama ketahui bahwa Allah merupakan Dzat yang Esa karena tidak ada sesuatu pun yang dapat menyamakan Allah. Tauhid rububiyah dapat diamalkan dalam keseharian umat islam dengan tidak melakukan dosa syirik atau menyekutukan Allah dengan menyembah sesembahan selain Allah atau yang lainnya. DA

pertanyaan tentang tauhid rububiyah